Di tengah gonjang ganjing perekonomian dunia yang mengusik perekonomian nasional, ternyata sektor pariwisata Indonesia masih terus menunjukkan eksisitensinya. Hal ini dikukuhkan melalui penghargaan yang baru saja diterima Indonesia, yaitu Go Asia Award 2009 pada 11 Maret lalu. Penghargaan yang diberikan Go Asia, lembaga swasta Jerman di bidang pariwisata ini meletakkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata Asia terbaik dan terpopuler kedua setelah Thailand, dan sebelum Malaysia (peringkat3). Mekanisme penentuan ini dilakukan berdasarkan hasil online voting di www.goasia.de, dan open voting di majalah pariwisata B2B dan B2C milik Go Asia.
Ketangguhan sektor Pariwisata Indonesia ini semakin teruji merujuk data yang menyebutkan bahwa pada tahun 2008, tercatat jumlah kunjungan wisatawan asing meningkat 27% (dibanding tahun 2007), dan kunjungan wisatawan Jerman sendiri naik mencapai 22,6% (dibandingkan 2007). Kondisi ini telah membawa sektor pariwisata Indonesia menyumbangkan devisa sebesar US$ 7,5 milyar. Tidak hanya itu, catatan yang membanggakan tersebut juga bertambah, sehari setelah penghargaan Go Asia, majalah Senses, menetapkan Bali sebagai destinasi wisata Spa terbaik di dunia pada 2009. Apresiasi yang sama juga di dapatkan di dalam negeri, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan untuk kategori jumlah kunjungan wisman terbanyak.
Sukses pariwisata Indonesia ini tidak lepas dari suksesnya program Visit Indonesia 2008. Namun, kesuksesan ini masih memiliki PR banyak sebelum lanjut ke program visit Indonesia 2009 yang tengah dipersiapkan.
Pengembangan Potensi Pariwisata Regional
Sektor pariwisata boleh jadi merupakan sektor yang selalu menjanjikan bagi sumber penghasil devisa, karena memiliki multipliereffects bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu merupakan sebuah keharusan bagi seluruh stakeholders yang terlibat untuk mengelola sektor ini dengan baik. Kita mengetahui Nusantara memiliki ratusan potensi pariwisata yang terbentang dari Sabang samapai Merauke, dan Sumatera Barat salah satunya. Kekhasan budaya dan daya tarik pariwisata Sumatera Barat pun tak diragukan lagi, mulai dari dapur (cita rasa makanan), pakaian, rumah, kegiatan sehari-hari, seni, agama, bentangan alam hingga sistem demokrasi mingkabau yang semua memiliki karakter memesona wisatawan. Setiap tahunnya ada saja even-even yang digelar oleh pemerintah daerah Sumatera Barat untuk menarik minat wisatawan manca maupun domestik, seperti even tahunan lomba perahu naga/selaju Sampan menjelang ulang tahun kota Padang, dan Tabuik di Pariaman setiap bulan Muharam (kalendar Hijriah). Untuk tahun ini, pemerintah provinsi Sumatera Barat akan banyak sekali menggelar even nasional dan internasional untuk menggairahkan sektor pariwisata Sumbar. Even-even ini meliputi Tour de Singkarak (29 April-3 Mei 2009); Pameran bersama museum UPT kebudayaan pusat dan daerah (26-31 Mei 2009); Sumatera International Travel Fair 2009 (5-7 Juni 2009); Pekan Budaya Sumbar 2009 (12-18 Juni 2009); Temu karya taman budaya se-Indonesia (27-30 Juli 2009); dan yang terakhir Kemilau Sumatera 2009, yang bertujuan mempromosikan potensi pariwisata dan citra positif di Sumatera sebagai satu destinasi unggulan. Kegiatan yang melibatkan seluruh provinsi di Sumatera ini akan mengagendakan pameran budaya, atraksi kesenian, kuis kenali negerimu dan cintai negerimu.
Dari deretan even di atas, ada kesan bahwa citra pariwisata daerah yang berdiri sendiri-sendiri mulai berubah, menuju sebuah agenda pengembangan wisata berbasis kawasan. Hal ini penting dilakukan, karena bagaimanapun seluruh provinsi di Pulau Sumatera memiliki potensi wisata yang tak kalah menariknya. Selain itu, agenda wisata yang melibat beberapa provinsi di kawasan akan menjadi sebuah kemasan menarik bagi wisatawan. Apalagi kemasan ini didukung oleh pengelolaan dan jaringan yang maksimal. Kemasan ini tidak melulu harus berbentuk paket wisata perjalanan, bisa saja lewat pembuatan film promosi pariwisata yang integratif, pagelaran seni dan budaya, bahkan juga melalui media interaktif.
Alternatif lain juga bsa melibat lingkup yang lebih besar seperti pengembangan wisata melayu yang melibatkan beberapa negara di kawasan Asia dan Afrika seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Filipina, Srilanka, Madagaskar, hingga Afrika Selatan, yang sudah banyak diinfokan melalui media online www.wisatamelayu.com. Jadi ada potensi kawasan yang harus dimaksimalkan, dan tidak melulu menargetkan wisatawan asing dari Eropa dan Amerika yang beberapa negara diantaranya seringkali menerbitkan travel warning bahkan travel ban.
Begitupun dengan kawasan Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara dan Papua. Gugusan kepulauan ini juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Kemasannya bisa saja wisata alam, wisata sejarah, dan wiata minat khusus, belanja, olahraga dan wisata kuliner. Kemasan wisata ini bisa saja ditujukan untuk wisatawan tertentu, misalnya pelajar/institusi asing melalui paket wisata minat khusus.
Pengembangan pariwisata berbasis kawasan ini diharapkan mampu untuk pemerataan pemasukan bagi sektor pariwisata di daerah-daerah kunjungan wisata. Karena melalui program ini ada distribusi kunjungan wisatawan, yang berarti membelanjakan kebutuhannya tidak hanya di satu tempat saja tetapi di beberapa tempat. Namun, langkah-langkah ini benar-benar harus dipersiapkan dengan seksama untuk menghindari kompetisi yang berlebihan antar kawasan. Masing-masing kawasan harus memiliki jadwal atraksi budaya yang berbeda dengan kawasan lainnya, kalau pun sama mengusahakannya dalam format yang berbeda, karena seringkali beberapa program yang sama digunakan untuk menarik wisatawan. Kesan yang muncul kemudian bukannya bagus tetapi membosankan. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi dan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan oeh masing-masing stakeholders di kawasan.
Padang
16 Maret 2009
