Jumat, 10 Juli 2009


Aku ingin sekali tidak bermukim lama di sini, jika aku bisa memilih maka ku ingin pergi ke manapun kaki ini bisa melangkah. Namun, kadang dunia itu menentukan sendiri pilihannya untuk mu…

Dan yang bisa kau lakukan adalah membuatnya menjadi lebih kreatif untuk dinikmati…

Meski kadang kau sendiri belum menemukan cara untuk membuat itu semakin berarti

Maka pahamilah, itulah hidup

Rahasia alam yang tak bisa seorang pun mendustai…

Kemudian,…tersenyumlah

Karena dengan senyum, kau bisa melihat belakang, sekarang dan ke depan lebih bersahaja

Jangan bersedih …

Segala sesuatu memiliki skenarionya sendiri

Meski kadang terkoneksi…

Itu tak akan membuatnya tidak berarti

Biarkan mimpi-mimpi

Tetap dalam pundi-pundinya sendiri

Karena dia telah menemanimu selama ini

Minggu, 14 Juni 2009

Aku bersyukur


Aku bersyukur memiliki sahabat, saudara-saudaraku yang dihadirkan tuhan meski bukan lahir dari rahim ibuku. Dihadiahkan sepasang orangtua yang luarbiasa, adik-adik yang manis dan bersahaja, dan dibesarkan dalam atmosper sederhana.

Guru-guru yang mencintai dengan ilmunya, dan alam yang dengan sendirinya memilih cara untuk menjaga dan menyangiku.

Kami dibesarkan dengan fitnah, kecurangan, intimidasi dan ragam prilaku tak adil. Kata papa, itu bagian dari episode hidup, pohon yang tinggi tidak tumbuh dengan sendirinya, ia ditempa badai, semakin tinggi semakin besar terpaan yang harus dihadapinya. Must be optimist, never give up and always think positively.

Pilihan hanya satu, maju terus. Jika masih ingin melihat masa lalu, ambil semangatnya saja, buang jauh-jauh dendam. Maafkan, tapi sulit untuk dilupakan. Karena hati dan logika kadang sulit untuk menegosiasikan egonya.

Semua yang hidup pasti menghadapi masalah, dimensi, waktu dan proporsilah yang membedakannya. Maka tersenyumlah, syukuri hidup dengan memaknainya lebih hidup. Fighting Vhee!!!

Enam X 365 hari, putaran waktu yang terkadang berlalu tanpa terasa

Jika dan Ketika


Jika ada orang yang bilang pada suatu saat dia merasa dia tidak merasakan sesuatu , maka akupun pernah mengalaminya

Ketika ada orang mengatakan dia tak mengerti sesuatupun , maka aku mencoba untuk mengerti bahwa sesuatu itu telah membuat seseorang (yang mungkin dengan terpaksa) tidak bsa memutuskan bahwa dia bisa memahaminya.

Ketika seseorang berkata bahwa dia tidak tahu harus berbuat apa, dengan sadar aku yakin dan mencoba untuk bisa melakukan sesuatu, sampai suatu waktu, dimana dia tak memilih berkompromi padaku dan mebuatku harus menunggu, mengujiku.

Ketika ada sahabat yang tiba-tiba menjauh dariku, aku ingin tahu kenapa dia melakukan itu, maka akupun bertanya dan mencernanya lewat logika, dan waktu sekali lagi membiarkanku berguru, dan benar teman itu berbalik padaku.

Ketika aku menyapa alam, dan menyampaikan kegundahanku, duduk di pojok itu, bernafas dan membiarkan banyu membentuk riak yang tak ingin menyatu, lalu ia berseru ..kamu punya kesempatan untuk maju, maka tersenyumlah

Ketika aku mencoba untuk mendengar dan merasakan ada detak aneh di jantungku, aku meminta nalarku untuk memahami itu, dia bilang aku harus membiarkannya seperti itu, karena itu karunia untukku, maka nikmatilah dan berusalah untuk menyimpannnya erat di genggamanku lalu biarkan dia tahu bahwa kamu mengerti pesan yang datang lewat gelombang merah jambu

Ketika orang-orang banyak bicara bahwa aku pasti bisa mengubah Sesuatu dan melalui semua perubahan yang datang tiba-tiba tanpa berkompromi denganku, maka kurasa aku terlalu lugu untuk menyadari siapa aku hingga bisa melakukan apa yang mereka mau dan membiarkanya berlalu

Ketika aku tahu dan yakin aku mampu, Tuhan bantu aku

Kamis, 16 April 2009

Geliat Pariwisata Nasional Dan Peluang Pengembangan Pariwisata Regional

Di tengah gonjang ganjing perekonomian dunia yang mengusik perekonomian nasional, ternyata sektor pariwisata Indonesia masih terus menunjukkan eksisitensinya. Hal ini dikukuhkan melalui penghargaan yang baru saja diterima Indonesia, yaitu Go Asia Award 2009 pada 11 Maret lalu. Penghargaan yang diberikan Go Asia, lembaga swasta Jerman di bidang pariwisata ini meletakkan Indonesia sebagai negara tujuan wisata Asia terbaik dan terpopuler kedua setelah Thailand, dan sebelum Malaysia (peringkat3). Mekanisme penentuan ini dilakukan berdasarkan hasil online voting di www.goasia.de, dan open voting di majalah pariwisata B2B dan B2C milik Go Asia.

Ketangguhan sektor Pariwisata Indonesia ini semakin teruji merujuk data yang menyebutkan bahwa pada tahun 2008, tercatat jumlah kunjungan wisatawan asing meningkat 27% (dibanding tahun 2007), dan kunjungan wisatawan Jerman sendiri naik mencapai 22,6% (dibandingkan 2007). Kondisi ini telah membawa sektor pariwisata Indonesia menyumbangkan devisa sebesar US$ 7,5 milyar. Tidak hanya itu, catatan yang membanggakan tersebut juga bertambah, sehari setelah penghargaan Go Asia, majalah Senses, menetapkan Bali sebagai destinasi wisata Spa terbaik di dunia pada 2009. Apresiasi yang sama juga di dapatkan di dalam negeri, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan untuk kategori jumlah kunjungan wisman terbanyak.

Sukses pariwisata Indonesia ini tidak lepas dari suksesnya program Visit Indonesia 2008. Namun, kesuksesan ini masih memiliki PR banyak sebelum lanjut ke program visit Indonesia 2009 yang tengah dipersiapkan.

Pengembangan Potensi Pariwisata Regional

Sektor pariwisata boleh jadi merupakan sektor yang selalu menjanjikan bagi sumber penghasil devisa, karena memiliki multipliereffects bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu merupakan sebuah keharusan bagi seluruh stakeholders yang terlibat untuk mengelola sektor ini dengan baik. Kita mengetahui Nusantara memiliki ratusan potensi pariwisata yang terbentang dari Sabang samapai Merauke, dan Sumatera Barat salah satunya. Kekhasan budaya dan daya tarik pariwisata Sumatera Barat pun tak diragukan lagi, mulai dari dapur (cita rasa makanan), pakaian, rumah, kegiatan sehari-hari, seni, agama, bentangan alam hingga sistem demokrasi mingkabau yang semua memiliki karakter memesona wisatawan. Setiap tahunnya ada saja even-even yang digelar oleh pemerintah daerah Sumatera Barat untuk menarik minat wisatawan manca maupun domestik, seperti even tahunan lomba perahu naga/selaju Sampan menjelang ulang tahun kota Padang, dan Tabuik di Pariaman setiap bulan Muharam (kalendar Hijriah). Untuk tahun ini, pemerintah provinsi Sumatera Barat akan banyak sekali menggelar even nasional dan internasional untuk menggairahkan sektor pariwisata Sumbar. Even-even ini meliputi Tour de Singkarak (29 April-3 Mei 2009); Pameran bersama museum UPT kebudayaan pusat dan daerah (26-31 Mei 2009); Sumatera International Travel Fair 2009 (5-7 Juni 2009); Pekan Budaya Sumbar 2009 (12-18 Juni 2009); Temu karya taman budaya se-Indonesia (27-30 Juli 2009); dan yang terakhir Kemilau Sumatera 2009, yang bertujuan mempromosikan potensi pariwisata dan citra positif di Sumatera sebagai satu destinasi unggulan. Kegiatan yang melibatkan seluruh provinsi di Sumatera ini akan mengagendakan pameran budaya, atraksi kesenian, kuis kenali negerimu dan cintai negerimu.

Dari deretan even di atas, ada kesan bahwa citra pariwisata daerah yang berdiri sendiri-sendiri mulai berubah, menuju sebuah agenda pengembangan wisata berbasis kawasan. Hal ini penting dilakukan, karena bagaimanapun seluruh provinsi di Pulau Sumatera memiliki potensi wisata yang tak kalah menariknya. Selain itu, agenda wisata yang melibat beberapa provinsi di kawasan akan menjadi sebuah kemasan menarik bagi wisatawan. Apalagi kemasan ini didukung oleh pengelolaan dan jaringan yang maksimal. Kemasan ini tidak melulu harus berbentuk paket wisata perjalanan, bisa saja lewat pembuatan film promosi pariwisata yang integratif, pagelaran seni dan budaya, bahkan juga melalui media interaktif.

Alternatif lain juga bsa melibat lingkup yang lebih besar seperti pengembangan wisata melayu yang melibatkan beberapa negara di kawasan Asia dan Afrika seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Filipina, Srilanka, Madagaskar, hingga Afrika Selatan, yang sudah banyak diinfokan melalui media online www.wisatamelayu.com. Jadi ada potensi kawasan yang harus dimaksimalkan, dan tidak melulu menargetkan wisatawan asing dari Eropa dan Amerika yang beberapa negara diantaranya seringkali menerbitkan travel warning bahkan travel ban.

Begitupun dengan kawasan Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara dan Papua. Gugusan kepulauan ini juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Kemasannya bisa saja wisata alam, wisata sejarah, dan wiata minat khusus, belanja, olahraga dan wisata kuliner. Kemasan wisata ini bisa saja ditujukan untuk wisatawan tertentu, misalnya pelajar/institusi asing melalui paket wisata minat khusus.
Pengembangan pariwisata berbasis kawasan ini diharapkan mampu untuk pemerataan pemasukan bagi sektor pariwisata di daerah-daerah kunjungan wisata. Karena melalui program ini ada distribusi kunjungan wisatawan, yang berarti membelanjakan kebutuhannya tidak hanya di satu tempat saja tetapi di beberapa tempat. Namun, langkah-langkah ini benar-benar harus dipersiapkan dengan seksama untuk menghindari kompetisi yang berlebihan antar kawasan. Masing-masing kawasan harus memiliki jadwal atraksi budaya yang berbeda dengan kawasan lainnya, kalau pun sama mengusahakannya dalam format yang berbeda, karena seringkali beberapa program yang sama digunakan untuk menarik wisatawan. Kesan yang muncul kemudian bukannya bagus tetapi membosankan. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi dan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan oeh masing-masing stakeholders di kawasan.

Padang

16 Maret 2009


Menuju Welfare State

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Adalah satu di antara kalimat pertama yang wajib kita lafalkan sejak kelas I SD. Sebuah mimpi para founding fathers bangsa pasca diakuinya RI sebagai negara berdaulat. Namun, hingga kini setengah abad lebih udara kemerdekaan dihirup kalimat sakti itu belum membuktikan apa-apa.

Sebagai sebuah negara demokrasi Indonesia belum mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Konsep demokrasi seolah hanya menjadi pemanis saat sekelompok orang di negeri ini memperebutkan kekuasaan, karena saat itu mereka membutuhkan suara rakyat sebagi sebuah legitimasi. Janji-janji perbaikan hidup masyarakat menuju masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera diobral murah di seluruh penjuru negeri. Sudah 4 kabinet sejak reformasi janji-janji itu tak terealisasi jua. Belum ada konsep yang jelas tentang kesejahteraan masyarakat oleh pemerintah. Dulu di era Sukarno bangsa ini melarat, di era Suharto sedikit lebih baik, di era Habibi sempat gagap kehilangan arah, Gusdur dan Megawati mencoba untuk pulih, di era SBY pun belum ada kemajuan berarti.

Lalu, konsep apa yang dibutuhkan bangsa demokratis ini? Keadilan seperti apa, kesejahteraan bagi siapa? Seperti apa format kebijakannya?. Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita jawab dengan sebuh konsep yang bernama Welfare State.

Welfare state sebuah konsep yang menempatkan negara/pemerintah sebagai pihak utama yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan sosial masyarakatnya secara terencana, melembaga dan berkesinambungan. Program dari welfare state meliputi berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, pangan, dsb. Selain pemerintah ada beberapa pihak lain yang terlibat yaitu organisasi sosial, LSM, a state-sponsored company or agency, a private corporation, a charity or another form of non-profit organization[1]. Welfare state tidak semata dirancang untuk masyarakat miskin seperti yang disebutkan Paul Spicker[2], “It was not designed for the poor; it was supposed to offer social protection for everyone, to prevent people from becoming poor”. Masyarakat yang memiliki pekerjaan tetapi tidak penghasilan rendah, para pensiunan, pengangguran, gelandangan, anak jalanan, penyangdang cacat, dan jompo terlantar[3] juga termasuk objek dari welfare state.

Konsep welfare state telah digunakan di beberapa negara seperti AS (kapitalis liberal) Swedia, Denmark, Prancis, Jerman, Spanyol (sosialis) , Australia, Inggris, dan New Zealand bahkan di negara-negara berkembang seperti Brazil, Filipina dan Srilanka. Masing- masing negara memiliki model yang berbeda-beda berdasarkan besarnya aggaran negara dan pihak yang terlibat[4].

Konsep ini disebut pula sebagai Social Justice, karena mengandung unsur keadilan (justice), dan fairness[5]. Jadi bukanlah soal kesejahteraan di bidang finansial saja, tetapi harus ada aspek keadilan yaitu sesuatu yang fair bagi masyarakatnya. Indikator yang digunakan diantaranya: distribusi anggaran yang merata, tidak ada potongan apalagi disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu dan setiap masyarakat mendapatkan alokasi anggaran yang proporsional tergantung dengan keadaan mereka masing-masing.

Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia sekarang?

Dari keempat model yang diungkapkan oleh Edi Suharto, menurut saya tahap awal yang bisa digunakan oleh pemerintah Indonesia adalah model ke empat yaitu: model minimal dengan menetapkan anggaran di bawah 10% dari total pengeluaran negara. Meski tergolong kecil tetapi jika sudah ada komitmen dari pemerintah, sektor lain-pun bisa digandeng seperti sektor swasta (perusahaan) dan juga organisasi non profit (LSM). Namun, sebelumnya pemerintah harus membuat program yang jelas dengan menetapkan skala prioritas bagi objek program sosial tersebut. Objek harus disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat dan memiliki tahapan yang jelas. Saat ini ada tiga sektor utama yang harus diprioritaskan oleh pemerintah yaitu : pendidikan; ekonomi dan kesehatan. Karena ketiga aspek ini sangat berkaitan, pembenahan di sektor ekonomi tidak bisa mengabaikan sektor pendidikan karena pendidikan adalah motor penggerak yang akan mengahasilkan sumberdaya manusia (SDM) berkualitas yang didukung oleh kondisi kesehatan yang prima.

Upaya-upaya di atas membutuhkan koordinasi yang kuat pada internal institusi/birokrasi pemerintah itu sendiri. Pemerintah harus membangun rantai koordinasi mulai dari pusat hingga daerah, sehinga sinergitas dan kontinuitas bisa terwujud. Pembagian peran dengan masyarakat baik individu atau kelompok harus seimbang, sehingga kontrol pemerintah tetap terjaga. Bagaimanapun, sistem demokrasi bukan berarti mengurangi peran pemerintah seutuhnya, karena rezim demokrasi lahir dari suara rakyat itu sendiri.

Seperti yang dikatakan Francis Fukuyama “Tak ada Demokrasi tanpa Demokrat”, demokrasi butuh sikap-sikap yang menunjukkan adanya wujud demokrasi. Demokrasi yang harus mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakatnya.Tidak melulu soal keadilan politis, seperti hak berpendapat, ekspresi, memberikan suara dalam pemilu (memilih dan dipilih). Sehingga kelak Indonesia tidak hanya bangga akan posisinya sebagai negara demokrasi ke-3 terbesar setelah AS dan India, tetapi juga negara yang bisa mewujudkan demokrasi bagi rakyatnya yang berkeadilan dan sejahtera menuju welfare state[1] yang nyata





[3] http://www.policy.hu/suharto/makIndo42.html, kelompok ini disebut penyandang masalah kesejahteraan sosial, yang jumlahnya lebih 21 juta orang. Secara umum kondisi PMKS lebih memprihatinkan ketimbang orang miskin. Selain memiliki kekurangan pangan, sandang dan papan, kelompok rentan (vulnerable group) ini mengalami pula ketelantaran psikologis, sosial dan politik.

[4] sepereti yang ditulis oleh Edi Suharto, ia menjabat sebagai direktur Institute for Development Studies (IDS), model universal~negara-negara Skandinivia; model institusional~Jerman & Austria; model residual~ AS, Inggris, Australia dan Selandia Baru; model minimal yang dianut oleh gugus negara-negara latin (Prancis, Spanyol, Yunani, Portugis, Itali, Chile, Brazil) dan Asia (Korea Selatan, Filipina, Srilanka). Sumber: http://www.policy.hu/suharto/makIndo42.html

[5] mengutip konsep The Theory Of Justice John Rawls